Perbandingan Konsumsi BBM Toyota Fortuner Bensin dan Diesel

Toyota Fortuner diperkenalkan di Indonesie dalam dua pilihan mesin yakni bensin maupun diesel. Sayangnya untuk versi bensin jarang terlihat di jalanan karena dianggap lebih boros pemakaian bahan bakar.

Toyota Astra Motor (TAM) memasarkan Fortuner Baru dengan harga mulai dari Rp 478.900.000 untuk varian G MT Diesel. Varian termahalnya diniagakan dengan Harga Mobil Fortuner Rp 670.900.000 4X4 VRZ AT Diesel.

Pada Toyota Fortuner Facelift 2021 tidak ada lagi varian bensin karena semakin sedikit peminatnya. Sebelumnya Fortuner versi bensin ditawarkan dalam varian SRZ dan TRD dengan harga yang lebih mahal dari versi diesel.

Perbandingan Konsumsi BBM Toyota Fortuner Bensin dan Diesel

Sejarah Toyota Fortuner di Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh konsumsi bahan bakar Toyota Fortuner bensin dan diesel, kami ingin sedikit mengulas sejarah masuknya SUV ladder frame ini ke Tanah Air. Saingan ketat Mitsubishi Pajero Sport ini pertama kalinya hadir pada 2005.

Saat itu, Fortuner yang dipasarkan merupakan unit yang diboyong dari Thailand dalam kondisi CBU (Complety Built Up). Varian yang ditawarkan hanya ada pilihan mesin bensin belum ada versi diesel yang hits saat ini.

Berbekal mesin 2TR-FE, output kendaraan ini diklaim mencapai 161 hp. Besaran tenaganya saat itu dianggap masih cukup untuk diajak berpetualang.

Hanya butuh satu tahun, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mulai merakit sendiri Fortuner. Pabrik mereka di Karawang, Bekasi, Jawa Barat sudah menggunakan 45 persen komponen lokal pada Fortuner.

Tidak ada masalah berarti atas keberadaan Fortuner di Indonesia. Hanya saja beberapa pemiliknya mengeluhkan borosnya bahan bakar kendaraan ini.

Pada 2007, Toyota memperkenalkan Fortuner versi diesel dengan kode 2KD-FTV. Awalnya brand asal Jepang ini hanya menawarkan satu pilihan varian yakni 2.5 G MT.

Baru pada 2008, SUV bertubuh gambot ini mengalami ubahan fisik meskipun tidak terlalu signifikan. Satu tahun setelahnya Fortuner diberikan pilihan transmisi otomatis sehingga perjalanan lebih menyenangkan.

Mereka baru melakukan penyegaran kembali pada Fortuner pada 2011, namun lagi lagi-lagi hanya facelift. Baru pada tahun berikutnya ubahan mesin dilakukan dengan menyematkan teknologi VNT (Variable Nozzle Turbo).

Ubahan ini tentunya tidak semata-mata untuk meningkatkan gaya. Namun penyematan VNT berhasil mendongkrak besaran tenaga mobil sebesar 22 hp menjadi 144 hp.

Dengan semakin besarnya tenaga Fortuner, sejalan dengan minat konsumen. Penjualan rival berat Pajero Sport ini terus melonjak karena lebih galak tenaganya dibandingkan versi terdahulu.

Toyota Fortuner TRD Sportivo hadir pada 2013 dengan penambahan aksesori. Meskipun ditawarkan dengan harga lebih mahal, namun masyarakat tetap menjadikannya pilihan.

Butuh waktu hingga tiga tahun untuk Toyota Indonesia memperkenalkan edisi terbaru Fortuner. Tampilannya terlihat sangat galak dengan lampu sipitnya yang khas. Grille besar yang diusungnya membuat wajah kendaraan ini semakin berkarakter.

Meskipun menggunakan mesin besar dan teknologi mumpuni yang bisa menggali torsi besar. Namun besaran daya yang dihasilkan masih di bawah pesaing abadinya yakni Pajero Sport.

Maka dari itu, Pajero Sport dianggap lebih ‘sakti’ untuk diajak berpetualang ke trek-trek kasar. Istilahnya Pajero Sport lebih bisa untuk disiksa di berbagai medan.

Padahal pada versi terbarunya Fortuner sudah menggendong mesin baru dengan kode 2GD-FTV. Namun urusan performa, Fortuner lebih kalem daripada pesaingnya tersebut.


Konsumsi BBM Toyota Fortuner Bensin dan Diesel

Cara menghitung konsumsi bahan bakar sebenarnya ada beberapa teknik. Metode pengukurannya sendiri dibedakan pada medan jalan yang dilalui yakni dalam kota dan luar kota.

Untuk penggunaan dalam kota tentunya akan lebih banyak memakan bahan bakar, karena kondisi jalan yang pada umumnya padat dan cenderung macet. Dalam keadaan ini, kendaraan lebih banyak diam yang artinya mesin mengemban tugas lebih berat.

Tidak adanya pasokan udara yang cukup membuat mesin lebih panas. Kondisi ini tentunya akan membuat bahan bakar tersedot lebih banyak ke ruang bakar.

Belum lagi jika didorong dengan kebiasaan pengemudi yang kerap menginjak pedal gas dalam-dalam. Kebiasaan ini akan menambah laju bahan bakar lebih deras ke ruang bakar.

Sedikit berbeda perlakuannya pada perjalanan luar kota. Pengukuran penggunaan bahan bakar pada perjalanan luar kota biasanya lebih irit.

Hal ini dikarenakan kondisi jalan ke luar kota biasanya lebih sepi dan banyak jalur lurusnya, terlebih jika memanfaatkan jalan bebas hambatan atau tol. Kondisi ini memungkinkan mesin mendapat pasokan udara lebih banyak, sehingga suhunya lebih dingin dan berimbas pada efisiensi bahan bakar.